Pada 1914, sebelum Angkatan Militer Ottoman dimobilisasi, Staf Kolonel
Fahreddin Bey ditunjuk sebagai komandan Korps XII yang ditempatkan di
Mosul. Fahreddin atau bernama lengkap Fakhri Pasha atau Umar Fakhr
ud-Din Pasha (1868-1948) lantas dipromosikan ke pangkat Mirliva pada 12
November 1914 dan diangkat ke Wakil Komandan Angkatan Darat Keempat yang
ditempatkan di Aleppo. Fahreddin Pasha dikepung oleh pasukan Sharif.
Namun, ia dengan gigih membela kota suci tersebut.
Selama Perang
Dunia I, Fahreddin Pasha pindah ke Madinah di Hejaz pada 23 Mei 1916. Ia
pindah untuk mempertahankan kota Madinah. Dia kemudian ditunjuk sebagai
komandan pasukan ekspedisi Hejaz pada 17 Juli 1916.
Pasha tidak
hanya harus membela Madinah. Namun juga melindungi jalur-tunggal yang
sempit dari Jalur Kereta Api Hejaz dari serangan sabotase oleh T.E
Lawrence dan pasukan Sharif. Yang mana, seluruh logistiknya bergantung
pada jalur tersebut. Penempatan pasukan Ottoman (Ustmani) dari stasiun
kereta kecil yang terisolasi itu bertahan dalam serangan malam yang
terus-menerus. Mereka mengamankan jalur itu melawan peningkatan jumlah
sabotase (sekitar 130 serangan besar pada 1917 dan ratusan pada 1918,
termasuk peledakkan lebih dari 300 bom pada 30 April 1918).
Dengan
pengunduran diri Kekaisaran Ottoman dari perang dengan Gencatan Senjata
antara Kekaisaran Ottoman dan Entente pada 30 Oktober 1918, Fahreddin
diperkirakan akan menyerah. Namun, dia menolak melakukannya dan menolak
menerima gencatan senjata.
Pada suatu hari pada Jumat di musim
semi 1918, setelah shalat di Masjid Nabawi, Pasha menaiki tangga mimbar
dan berhenti di tengah jalan. Ia lantas mengarahkan mukanya ke makam
Nabi dan berkata dengan suara keras dan jelas.
"Nabi Allah! Saya tidak akan pernah meninggalkanmu!"
Fahreddin
kemudian berbicara kepada orang-orang, "Prajurit! Saya menghimbau Anda
atas nama Nabi, saksiku. Saya perintahkan Anda untuk membelanya dan
kotanya hingga peluru terakhir dan napas terakhir, terlepas dari
kekuatan musuh. Semoga Allah membantu kita, dan semoga ruh semangat
Muhammad menyertai kita."
"Petugas tentara Ottoman yang gagah
berani! Wahai Muhammad kecil, maju dan berjanjilah, dihadapan Tuhan dan
Nabi kita, untuk menghormati keimananmu dengan pengorbanan tertinggi
dalam hidupmu."
Fahreddin mengatakan, bahwa ia memiliki sebuah
visi dalam sebuah mimpi bahwa Nabi Muhammad telah memerintahkannya untuk
tidak tunduk. Pada Agustus 1918, dia menerima sebuah panggilan untuk
menyerah dari Sharif Husain dari Makkah. Fahreddin Pasha membalasnya
dengan kata-kata ini.
"Fakhr-ud-Din, Jenderal, Pembela Kota Paling Suci Madinah. Hamba Nabi."
"Atas
nama Allah, Yang Maha Kuasa. Bagi dia yang melanggar kekuatan Islam,
menyebabkan pertumpahan darah di kalangan umat Islam, membahayakan
kekhalifahan Komandan Setia, dan menghadapkannya pada dominasi Inggris."
"Pada
Kamis malam tanggal 14 DhulHijjah, saya berjalan dan lelah, memikirkan
perlindungan dan pertahanan Madinah, ketika saya menemukan diri saya di
antara orang-orang tak dikenal yang bekerja di sebuah lapangan kecil.
Lalu aku melihat berdiri di depanku seorang pria dengan wajah luhur. Dia
adalah Nabi, semoga berkah Allah besertanya! Lengan kirinya menempel di
pinggangnya di bawah jubahnya, dan dia berkata kepadaku dengan cara
yang protektif, 'Ikutilah aku'. Aku mengikutinya dua atau tiga langkah
dan terbangun. Saya langsung melanjutkan ke masjid sucinya dan bersujud
dalam do'a dan bersyukur (dekat makamnya).
"Saya sekarang berada
di bawah perlindungan Nabi, Panglima Tertinggi saya. Saya menyibukkan
diri dengan memperkuat pertahanan, membangun jalan dan lapangan di
Madinah. Menghambat saya tidak dengan tawaran yang tidak berguna."
Fahreddin
menolak menyerahkan pedangnya. Bahkan, setelah menerima perintah
langsung dari menteri perang Ottoman. Pemerintah Ottoman marah atas
sikapnya dan Sultan Mehmed VI memecatnya dari jabatannya. Namun,
Fahreddin lagi-lagi menolak untuk melakukannya dan menyimpan bendera
Sultan Ottoman yang tinggi di Madinah sampai 72 hari setelah berakhirnya
perang. Setalah Gencatan Senjata Moudros, unit Ottoman terdekat berada
pada jarak 1.300 km dari Madinah.
Fahreddin ditangkap oleh
orang-orangnya sendiri dan dibawa ke Abdullah pada 9 Januari 1919 di Bir
Darwish. Abdullah memasuki Madinah tak lama setelah penyerahan diri
Fahreddin, diikuti oleh Ali yang memasuki kota pada 2 Februari 1919.
Meski akhirnya menyerah, namun Fahreddin Pasha tetap dikenal sebagai
sebagai Komandan Tentara Ottoman dan gubernur Madinah dari 1916 hingga
1919. Dia dijuluki 'Singa Gurun' dan 'Harimau Gurun' oleh Inggris karena
patriotismenya dalam melindungi Madinah. (republika)
