
Setidaknya 10 orang dilaporkan tewas dalam penembakan yang terjadi di sekolah di Santa Fe, Amerika Serikat ( AS), Jumat (18/5/2018).
Dilaporkan CNN dan BBC, penembakan terjadi di SMA Santa Fe setelah pelajaran dimulai pada pukul 07.30 waktu setempat.
Seorang saksi mata kepada KTRK-TV berkata, pelaku masuk ke dalam kelas saat pelajaran seni, dan menembaki murid-murid.
"Dia menggunakan senjata shotgun. Seorang teman saya tertembak di kakinya. Saya tidak melihat wajah pelakunya karena berusaha bersembunyi," kata murid tersebut.
Sheriff Harris County, Ed Gonzalez menjelaskan, jajarannya telah menangkap dua orang murid laki-laki yang diduga sebagai pelaku.
Sebagaimana dilaporkan CBS News, salah satu pelaku diidentifikasi bernama Dimitrios Pagourtzis, dan berusia 17 tahun.
Selain itu, dilaporkan terdapat sejumlah korban luka. Dua rumah sakit di Houston menyatakan mereka telah menerima sembilan korban penembakan.
Pusat Medis Regional Clear Lake berujar mereka menerima tujuh orang pasien. Adapun sisanya dilarikan ke Rumah Sakit Mainland.
Presiden Donald Trump langsung merespon melalui kicauan di Twitternya. Dia menyampaikan ucapan duka cita kepada keluarga korban tewas.
"Kami bersama kalian di momen yang sangat tragis ini, dan kami akan terus bersama kalian selamanya," kata Trump dalam twit-nya.
Ini merupakan penembakan di sekolah ke-22 yang terjadi di AS sepanjang 2018. CNN melansir, rata-rata dalam sepekan, terdapat satu kali penembakan.
Jumlah korban paling banyak terjadi di SMA Marjory Stoneman Douglas pada 14 Februari lalu. Ketika itu, 17 orang tewas dan 17 lainnya terluka.
BOM
Harian Houston Chronicles via The Independent mengabarkan, bom yang ditemukan polisi berbentuk pipa dan panci bertekanan tinggi.
Sementara CNN memberitakan, saat ini polisi tengah mencari sebuah trailer yang diduga menjadi tempat untuk merakit bom tersebut.
Sebelumnya, 10 orang tewas dalam penembakan yang terjadi di SMA Santa Fe sesaat setelah pelajaran dimulai pukul 07.30 waktu setempat.
Seorang saksi mata kepada KTRK-TV berkata, pelaku masuk ke dalam kelas saat pelajaran seni, dan menembaki murid-murid.
Sheriff Harris County, Ed Gonzalez menjelaskan, jajarannya telah menangkap dua orang murid laki-laki yang diduga sebagai pelaku.
Sebagaimana dilaporkan CBS News, salah satu pelaku diidentifikasi bernama Dimitrios Pagourtzis, dan berusia 17 tahun.
Presiden Donald Trump langsung merespon melalui kicauan di Twitternya. Dia menyampaikan ucapan duka cita kepada keluarga korban tewas.
"Kami bersama kalian di momen yang sangat tragis ini, dan kami akan terus bersama kalian selamanya," kata Trump dalam twit-nya.
Ini merupakan penembakan di sekolah ke-22 yang terjadi di AS sepanjang 2018. CNN melansir, rata-rata dalam sepekan, terdapat satu kali penembakan.
Jumlah korban paling banyak terjadi di SMA Marjory Stoneman Douglas pada 14 Februari lalu. Ketika itu, 17 orang tewas dan 17 lainnya terluka.
Kalau Pelaku Kejahatan Bukan Muslim maka tidak disebut Teroris
Kejahatan Brutal semacam itu bukan sekali ini saja, tetapi pelakunya tidak disebut teroris, sebagaimana penembakan Las Vegas tahun lalu.
Salah satu perdebatan penting yang
mencuat di media sosial setelah terungkapnya identitas pelaku adalah
aksi Stephen Paddock itu tindakan 'lone wolf' dan bukan serangan
terorisme. Benarkah ini soal warna kulit dan agama?
Aksi penembakan ini sudah disebut sebagai insiden penembakan yang paling buruk dalam sejarah modern Amerika Serikat.
Seorang pejabat mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa pria penembak tersebut memiliki sejarah masalah psikologis.
DuVernay bukan satu-satunya yang mempertanyakan 'status' Paddock yang tidak digolongkan sebagai teroris.
Anggota kelompok musik pop Fifth Harmony, Lauren Jauregui, juga mempertanyakan hal yang sama, namun menyampaikannya dengan lebih gamblang. Cuitannya tersebut di-retweet sampai 16.000 kali. "Kenapa dia bukan 'teroris' kenapa 'lone wolf'" dia sudah membunuh lebih dari 50 orang dan melukai hampir 500... ohhh! Karena dia bukan orang berkulit cokelat kan? Saya paham."
Absennya kata 'teroris' dalam mengacu pada apa yang dilakukan oleh Paddock juga disampaikan oleh Gigi Hadid, seorang model keturunan Palestina-Belanda-Amerika.
"Ini bukan penembakan pertama, dan bukan kematian yang pertama. Terlepas dari itu dia seorang teroris. Salahkan dia, bukan hanya aturan hukum soal senjata."
Penulis Bangladesh Taslima Nasreen juga mempertanyakan, "pria yang meneror 22.000 orang, membunuh dan melukai ratusan orang, dia tidak disebut teroris! apa perlu jadi orang islam untuk mendapat sebutan itu?"
Pengguna media sosial lain, Ben Lehwald, mengatakan, "bisa membunuh 58 orang dan belum disebut teroris? jika (pelakunya) ini adalah seorang penganut Islam, itu hal pertama yang mereka tanyakan."
Presiden Trump pun dalam pernyataan resminya mengutuk aksi penembakan di Las Vegas mengatakan ini adalah 'setan sejati', dan tidak menggunakan kata terorisme atau teror domestik.
Namun benarkah penyebutan Stephen Paddock sebagai 'lone wolf' terkait soal agama dan warna kulit?
Ada pengguna media sosial lain yang ikut memberi penjelasan, seperti kata pengguna catskilldelta1, "Definisi seorang teroris adalah menggunakan kekerasan terhadap warga sipil untuk mencapai tujuan politis. Sampai fakta-faktanya lengkap, ini bukan aksi terorisme, tapi tindakan kriminal. Jika faktanya salah, maka harap saya dikoreksi."
Beberapa media utama di AS, seperti New York Times, Washington Post, NPR, dan situs Vox, juga menyoroti adanya perdebatan soal apakah aksi penembakan Las Vegas ini tergolong terorisme. Dan hampir semuanya sampai pada kesimpulan bahwa untuk bisa disebut terorisme, suatu tindak kriminal harus memenuhi unsur-unsur hukum tertentu.
Dan agar bisa dikenai tuduhan terorisme, seseorang harus bertindak mewakili satu dari sekitar 60 kelompok yang digolongkan sebagai organisasi teror oleh Kementerian Luar Negeri AS, dan ini termasuk kelompok-kelompok seperti ISIS dan Al-Qaida.
Namun tetap saja orang bertanya mengapa dalam serangan-serangan yang terjadi di Eropa, seperti berbagai aksi di Paris, Barcelona, atau London, kesimpulan bahwa aksi-aksi tersebut terkait terorisme datang dengan cepat, dan sering dikonfirmasi dengan relatif cepat pula. (BBC, 3 Oktober 2017)