
Genderuwosfir, Genderuwonisme, dan Genderubotik
Penulis: Asyari Usman
Saya sering mengatakan kepada banyak orang bahwa saya merasa ngeri kalau pemerintah yang ada ini melanjutkan kekuasaannya. Kalaulah “genderuwo” itu artinya “menakutkan”, begitulah saya melihat pemerintahan ini. Menyeramkan. Ada semacam “genderuwosphere” (genderuwosfir). Yaitu, “suasana genderuwo” di tengah masyarakat.
Seram membayangkan masa depan anak-cucu saya kalau “genderuwosfir” ini berlanjut sampai 2024. Saya tidak rela menitipkan generasi penerus saya di tangan kekuasaan yang sifatnya genderuwostik. Sangat besar kemungkinan “genderuwosfir” bergulir menjadi ideologi “genderuwonisme”.
Kalau sempat terbangun genderuwonisme, itu berarti manusia Indonesia akan menjadi individu-individu yang bersifat genderuwo. Genderuwonisme adalah fase kedua setelah tercipta genderuwosfir.
Para penguasa sudah mulai melemparkan umpan. Mereka tampaknya ingin mensosialisasikan kata “genderuwo”. Mula-mula diarahkan ke orang lain. Tetapi sebenarnya target mereka adalah untuk melakukan cara-cara genderuwo itu guna membumikan genderuwosfir tadi.
Begitu suasana genderuwosfir sudah matang dan stabil, maka rakyat yang telah dikelabui oleh sistem genderuwostik akan bisa dengan mudah menerima genderuwonisme atau paham genderuwo. Genderuwonisme akan disebarkan secara masif. Dipropagandakan oleh media-media besar yang sudah lebih dulu menjadi genderuwo.
Sampailah pada tahap yang menyeramkan itu. Yaitu, tahap penerapan genderuwonisme secara total. Mereka membayangkan sebagian besar rakyat adalah penganut paham genderuwo.
Inilah momen yang mereka nantikan. Yakni, proses untuk mengubah orang secara perlahan menjadi “genderubotik”. Menjadi robot-robot genderuwo. Rakyat tak lagi mengenal nilai-nilai moral keagamaan. Tidak ada lagi nilai luhur bangsa. Semua orang memgikuti apa saja yang ada “blue print” genderuwonisme. Itulah puncak hayalan mereka.
Namun demikian, meskipun berbagai tahapan proses ini baru berupa mimpi, tetap saja kita semua harus waspada. Tidak boleh lengah sedikit pun. Ancaman laten genderuwo itu ada.
Jadi, Anda semua harus waspada terhadap “genderuwosfir”, “ genderuwonisme”, dan kemudian “genderubotik”.
(Penulis adalah wartawan senior)