
Orang-orang jalanan alias preman, hampir pasti akan menggunakan bahasa yang paling mereka pahami. Yaitu, bahasa preman. Begitu seterusnya.
Dalam kamus Melayu, sinkronisasi antara latarbelakang seseorang dengan tutur katanya disebut “bahasa menunjukkan bangsa”. Kata “bangsa” di dalam pepatah ini bukan merujuk pada “bangsa” dalam arti “nation”, melainkan dalam makna “jenis”.
Sebagai contoh, kalau bahasanya enak, pilihan katanya bagus, tuturnya santun, maka orang itu disebut “bangsa terdidik”. Orang terdidik. Cendekiawan.
Sebaliknya, kalau bahasanya semberono, pilihan katanya buruk atau amburadul, maka orang itu disebut “bangsa jalanan”. Berkultur premanisme. Tak berpendidikan. Tidak cendekia. Orang seperti ini cenderung asal bunyi. Asal sebut.
Kalau orang dari “bangsa jalanan” ini dibawa-bawa terjun ke dunia politik, alamat berantakanlah cara mereka berinteraksi. Gaya komunikasinya pun asal jadi. Tetapi, bisa dimaklumi. Karena mereka bukan politisi yang tersaring secara alamiah.
Kalau saya disebut “bangsa jalanan”, itu artinya saya tidak memiliki kecendekiawanan. Itu artinya saya tidak memiliki kapasitas. Tidak memiliki visi. Kalau saya bicara, lebih banyak audiens tak mengerti apa yang saya katakan.
Ketidakmampuan itu membuat saya “ngawur” ketika ingin berbicara spontanitas. Atau ad-libbing. Yaitu, ketika saya mau gaya-gayaan mengkritik orang lain. Ketika saya ingin menunjukkan kehebatan dalam berbahasa. Padahal saya tak mampu sama sekali.
Akhirnya saya sebutlah kata-kata yang membuat semua orang geleng kepala. Yang membuat orang bertanya-tanya, apa sebenarnya yang saya maksudkan. Orang menjadi heran mengapa saya harus menyebutkan istilah-istilah yang sama sekali tidak kontekstual.
Misalnya, tiba-tiba saja saya mengucapkan istilah politisi “sontoloyo”. Atau politisi “genderuwo”. Yaitu, dua kata yang saya ucapkan tanpa ada alasan. Alasannya dicari-carikan oleh media besar yang kebetulan senang pada saya karena mereka mendapatkan sesuatu dari posisi kuat yang saya duduki.
Padahal, saya ini bukan orang yang “berbangsa”. Bukan orang yang dipepatahkan oleh “bahasa menunjukkan bangsa”. Hanya orang rata-rata yang tidak miliki visi dan kompetensi. Politisi yang tak mempunyai kecakapan.
Saya paham dan rela kalau istilah-istilah ngawur yang saya ucapkan, dikembalikan kepada saya. Silakan, misalnya, mengembalikan “sontoloyo” dan “genderuwo” kepada saya jika memang menambah runyam suasana.
(Penulis adalah wartawan senior)