-->

MasyaAllah! Menambah Iman di Kolong Jembatan, Begini Motivasi Anak Punk dan Anak Jalanan untuk Mengaji, Tak Terduga







Ada yang berbeda dari kolong jembatan di depan stasiun Tebet, Jakarta Selatan dengan kolong jembatan di tempat lain. Di kolong ini, anda tidak hanya menemukan supir angkot yang istirahat sembari menyeruput kopi atau penjual asongan yang berkeliling menawarkan dagangan.

Namun, anda akan melihat pemandangan yang mungkin belum pernah anda lihat sebelumnya. Yaitu puluhan anak punk dan anak jalanan dari berbagai usia bergerumun di salah satu sudut kaki jembatan. Tentu mereka bukan sekedar nongkrong sambil gitaran, tapi menambah iman di kolong jembatan.

Bila anda datang pada hari Jumat pukul 13.00 WIB sampai jam 17.00 atau Sabtu pukul 11.00 WIB sampai jam 15.00 WIB, jangan heran dengan anak punk yang sekujur tubuhnya penuh dengan tatto, tetapi lisannya terbata-bata membaca “a-ba-ta-tsa”. Mungkin sebagian pembaca sudah mempelajari sejak Sekolah Dasar.

Bahkan, anda juga akan menemukan seorang perempuan dengan tatto di kening, tangan kanan menyulut rokok, namun tangan kiri memegang biografi singkat Sahabat Abu Bakar As-Shiddiq Radhiallahuanhu. Tentu, jangan anda berfikir mereka belajar dengan tidak serius. Bisa jadi, mereka jauh lebih jujur dalam menuntut ilmu agama dari kita yang hidup dengan normal. Celetukan mereka pun sangat berkelas, misalnya: dunia sementara, akhirat selamanya.

Puluhan anak punk dan anak jalanan ini dibina oleh komunitas Tasawuf Underground. Sebuah komunitas yang memang konsen untuk memberikan pendampingan kepada anak punk dan anak jalanan di Jabodetabek dalam belajar Islam. Ketua Tasawuf Underground, Ustadz Halim Ambiya memaparkan bahwa kegiatan mengaji di kolong jembatan Tebet ini memang baru.


“Bas camp di kolong jembatan ini memang baru, tapi bukan berarti program ini baru dimulai. di Tebet baru dua minggu atau tiga minggu, tapi mengajak anak punk ngaji di kolong jembatan, di terminal, di perempatan, sudah tiga dilakukan tasawuf underground,” paparnya saat ditemui Kiblat.net pada Sabtu (10/11/2018).

Ia berharap kegiatan di kolong jembatan ini bisa menarik relawan sebanyak-banyaknya agar membantu ribuan anak punk di sekitar Jabodetabek. Supaya, kata dia, anak-anak punk dan anak jalanan punya sahabat baru.

“Maka, antara relawan dan anak-anak punk dan jalanan ini bisa berbagi cerita, ilmu. Yang pengen belajar nyablon, belajar nyablon. Yang ingin belajar meracik kopi juga bisa belajar,” tuturnya.

Menurutnya, kalau kita mengajarkan kesabaran dan tawakal ke anak punk dan anak jalanan, mungkin kurang tepat. Karena mereka jauh lebih sabar dan lebih tawakal. Kita hanya membimbing mereka ke jalan syariat. Mereka, lanjutnya, ngamen kemudian doa dengan sembunyi-sembunyi, bisa jadi hubungannya dengan Allah kuat, tapi pengamalan syariat mereka belum selesai.

“Oleh sebab itu, kami ingin membantu mereka menemukan jalan pulang, jalan pulang kepada Allah dan jalan pulang kepada orang tua. Kolong jembatan bukan untuk memperbesar anak jalanan di kolong, tapi ini sebagai wadah,” tuturnya.

Motivasi Anak Punk dan Anak Jalanan untuk Mengaji

Septa Maulana, salah satu anak jalanan yang mengikuti acara tersebut mengungkapkan bahwa keikutsertaannya untuk melakukan pembenahan diri. Ia berharap bisa terus istiqomah untuk mendalami ilmu agama.

“Saya ikut untuk perbenahan diri dari kejelekan saya atau keburukan saya di masa lalu. Intinya untuk mengingat keyakinan saya kepada Sang Pencipta. Niatnya sih lanjut, syukur-syukur sampai Alqur’an insyaallah, sampai khatam dan paham makna dan artinya,” tuturnya.

Senada dengan Septa, Oky Ardiansyah, pria yang sudah berumur 30 tahun dan menghabiskan 18 tahun di jalanan ini ikut belajar agama di kolong jembatan untuk membenahi diri. “Di jalanan dari tahun 2000 sampai sekarang, 18 tahun. Jadi nggak sempat buat baca-baca iqro. Dulu sih sempat sampai iqro 6 waktu SD, tapi lupa lagi. Sekarang ulang dari nol lagi,” paparnya.

Saat ini, Oky dianugerahi dua orang anak dan satu anak masih dalam kandungan. Nantinya, ia berharap anaknya bisa belajar mengaji kepadanya. Dalam kegiatan ini, ia turut mengajak istrinya.

“Suatu saat nanti punya anak bisa belajar, ajarin buat anak-anaknya lah. Saya usia 30, mau anak 3. Istri saya pun lagi belajar dia, ikut juga. Memang kehidupan saya yang seperti ini tapi saya masih percaya sama yang di Atas, itulah bekal saya buat di akhirat nanti,” tuturnya.
BACA JUGA  Kenapa Kasus HRS di Saudi Dinilai Operasi Intelijen? Begini Penjelasan Pengacara

Sementara itu, Rendi Kusuma Saputra mengaku malu jika belajar di masjid. Sebab, ia masih belajar dari dasar sedangkan anak TPA sudah banyak yang bisa membaca Al-Quran. Maka, ia bersyukur bisa belajar agama bersama dengan kawan anak jalanan dan anak punk lain.

Ia juga kerap mengalihkan perbincangan jika diminta anaknya mengajar ngaji. Karena Rendi sendiri belum mampu membaca Al-Quran secara baik. “Kan saya udah punya anak dua, anak sudah minta di ajarin ngaji sama saya, saya kan ga ngerti. Makanya kalau ditanya, pura-pura ngomong yang lain,” ucapnya seraya disambut senyum Oky dan Sapta.

“Saya juga pingin jalanin yang di perintahin Allah, supaya bisa ngajarin anak-anak ngaji, dan membuktikan ke orang tua bahwa saya bisa ngaji. Saya ingin menambah iman,” tuturnya.

Anak punk dari Banten, Encep mengungkapkan bahwa perkumpulan ini adalah tujuan yang ia cari selama ini. Ia sudah mengembara sejak tahun 1997, dan bergabung dengan salah satu komunitas punk pada tahun 2005, mengatakan bahwa tempat pengajian ini adalah ‘pelabuhan’ bagi dirinya

“Alhamdululkah, nusantara udah saya jelajahi dan munkin di sinilah pelabuhan saya, yang sendiri merasa nyaman. Alhamdulillah ketemu sama saudara-saudara saya yang sepaham, juga ada sosok ustadz yang membawa kami menuju ke arah yang positif dan bermanfaat buat kami,” tuturnya.

Pria yang di bagian muka diselimuti tatto ini menegaskan bahwa jangan cuman orang itu menilai dan melihat kami itu cuman sebelah mata, dari penampilan. Harapan terbesar saya, lanjutnya, mudah-mudahan tali silaturahim ini bisa terus terjalin.

“Dan Setidaknya adek adek kami juga bisa terus mengaji, bisa terus mengambil bisa mengambil pengetahuan secara universal, bukan cuma di jalanan doang,” tutupnya.

KIBLAT






Promo