
Mengutip kompas 30/11/2016, Presiden Joko Widodo menilai Indonesia mempunyai potensi untuk menciptakan swasembada pangan. Jika potensi itu dimaksimalkan dengan baik, seharusnya, Indonesia bisa terlepas dari impor pangan.
"Saya kalau dengar yang namanya impor sedih banget. Buah impor, beras impor," kata Jokowi saat berpidato dalam acara penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara (APN) di Istana Negara, Jakarta, Rabu (30/11/2016).
Dilain sisi sebagaimana diberitakan republika 12 January 2018, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai, impor beras sebesar 500 ribu ton adalah bentuk cinta pemerintah pada masyarakat.
"Itu (impor) menunjukkan bahwa pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, Presiden begitu mencintai rakyat. Tidak ingin di konsumen tinggi, petani tidak boleh rugi," ujar Amran di Kantor Kemenko Perekonomian, Jumat (12/1).
Menurut Amran, jumlah impor beras yang rencananya akan dilakukan pada akhir Januari 2018 tidak signifikan jika dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi beras masyarakat per bulan."Ada sedikit, berapa sih kalau 500 ribu (ton) itu. Kebutuhan kita kan 2,5 juta (ton) perbulan. Itu setara dengan enam hari," ujarnya.
Seperti diketahui, pemerintah akhirnya memutuskan melakukan impor beras khusus dari Thailand dan Vietnam. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menjelaskan, beras yang akan diimpor adalah beras kualitas khusus yang tidak ditanam di Indonesia.
Apakah diantara sedih dan cinta ada hoax yang membangun?
Bahkan di lini masa ada warga net yang dengan terang bilang diantara sedih dan cinta ... ada dusta
Antara sedih dan cinta... ada dusta..#halah pic.twitter.com/w7YZn5rth7
— ㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤ (@MbahUyok) January 12, 2018
Bahasanya menina bobokan, "kecintaan kepada rakyat" belum tahu cinta dibangun dari dusta akhirnya menjadi pembantaian tak berakhir..!
— Antonio Tan Nugroho (@airdikit) January 12, 2018
Sabar di rezim mukidi mmang sprti mgenggam bara api..
— REEF (@AlHario) January 12, 2018
Sabar y pak tani..
Pmimpin kan dmintai pertggung jwban kelak..
N tu sgt brat